Institute for Southeast Asian Islamic Studies
Call for Paper
Written by Hanafi Friday, 27 May 2011 02:39
Call for Paper
Jurnal Nusantara ISAIS UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Nusantara Journal of Southeast Asian Islamic Studies invites any scholars and academicians who concern with Southeast Asian Islamic Studies to contribute articles and papers based on research to be published in Nusantara Vol. 13 No. 1, June 2011 and Vol. 13 No. 2, November 2011.
Criteria of the article:
1. Concerns with Southeast Asian Islamic Studies
2. Written in English or Bahasa Indonesia.
3. Consists of 15–30 pages on A-4 paper, with 1.5 lines spacing
4. Reference is written as footnote and listed in bibliography
5. Further technical guideline is available in the printed journals.
Note:
For coming edition, the article must be submitted before June 30, 2011 and Oct 30, 2011 via regular mail or e-mail to
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Nusantara is a twice per annum Journal published in June and November by ISAIS UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
Editor in Chief
Dardiri
The GENDER RELATION in TREASURE of TAFSIR NUSANTARA (NUSANTARA QUR’ANIC EXEGESIS):
Written by Hanafi Monday, 29 November 2010 08:22
A Comparative Study of Tarjumân al-Mustafîd ‘s ‘Abd al-Rauf Singkel and al-Mishbâh’s M. Quraish Shihab
THE STRATEGY and the OPPOSITION of ART of TRADITION AGAINST ;
Written by Hanafi Monday, 29 November 2010 08:18
THE STRATEGY and the OPPOSITION of ART of TRADITION AGAINST ;
The Implementation of Islamic Law in Pamekasan Madura
Abstrak ; Studi ini mengkaji tentang Siasat dan Perlawanan Seni Tradisi Terhadap Penerapan Syariat Islam Di Pamekasan. Metode penelitiannya adalah etnografi, salah satunya pengamatan terlibat atau partcipant observation (Spradley, 1979) dengan teknik wawancara. Kajian ini menggunakan pendekatan antropologi kekuasaan, kekuasaan disini mengacu pendapat Foucault (1978:92), bahwa kekuasaan sebagai sebuah model strategis canggih dalam masyarakat tertentu dibentuk dari kekuasaan-kekuasaan mikro yang terpisah-pisah. Studi ini menjelaskan bahwa komunitas seni tradisi ini punya kekuasaan setara dengan yang dimiliki oleh pihak penguasa atau komunitas ulama’. Bagi komunitas seni tradisi tidak pernah merasa tereksploitasi atau terhegemoni, akan tetapi justru mereka sadar akan kekuatan seni tradisi meskipun masyarakat memarjinalkannya. Begitu pula pada persoalan seni tradisi dengan siasat mereka dapat eksis, meskipun sulit untuk merubah pandangan masyarakat terhadap seni tradisi yang dianggap abangan. Akan tetapi dengan membuka wacana ketidakmutlakkan kebenaran masyarakat secara umum akan mengerti pembedaan yang disosialisasikan oleh masyarakat sendiri.
FINDING INDONESIAN ISLAM:
Written by Hanafi Monday, 29 November 2010 08:16
FINDING INDONESIAN ISLAM:
Hooker’s Thought on Ndonesian Islam Social Change Through Contemporary Fatawa
Abstrak : Indonesian Islam adalah term menarik yang selalu menjadi tema penting dalam studi Islam di kawasan Asia Tenggara. Dalam kaitan itu, Hooker mencoba menemukan ‘karakteristik’ keunikan Indonesian Islam dengan mempelajari sejumlah fatwa yang diputuskan oleh empat organisasi Islam penting Indonesia, ditambah satu lembaga semi-pemerintah di bawah departemen kesehatan. Ada dua hal menarik dari temuan Hooker. Pertama, Hooker menemukan bahwa dalam Indonesian fatwas hampir tidak ditemukan tipologi Islam modern versus Islam tradisional yang sering muncul dalam terminology Barat ketika membahas tentang Islam di Indonesia.
The STRUGGLE BETWEEN ISLAMIC LAW and SASAK CULTURE
Last Updated on Sunday, 05 December 2010 10:54 Written by Hanafi Monday, 29 November 2010 08:01
The STRUGGLE BETWEEN ISLAMIC LAW and SASAK CULTURE ;
Respecting Islamic Fiqih Wetu Telu
Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 Abstrak ; Tulisan ini membahas masalah pergumulan hukum Islam dengan budaya Sasak tepatnya dengan Islam Wetu Telu. Pola dan praktik keagamaan pada masyarakat Sasak terbagi menjadi dua varian yaitu Islam Waktu Lima dan Islam Wetu Telu. Waktu Lima lebih cenderung berkomitmen pada ideal Islam, sementara Islam Wetu Telu ajaran yang mereka jalankan banyak diwarnai oleh kepercayaan terhadap ketuhanan anismistic leluhur dan benda-benda antromorfis lainnya. Dalam hal ini mereka dapat dikatakan panteis. Adapun secara umum mengenai ajaran Islam, kelompok Islam Wetu Telu mengenal tiga rukun Islam saja, yaitu syahadat yang hanya dilakukan waktu akad nikah saja,serta solat dan puasa yang hanya merupakan kewajiban dan dilakukan oleh kyai saja, sementara orang awam tidak wajib melakukannya. Tulisan ini menguraikan argumen teologis tentang praktek dialektika Islam dan budaya lokal yang melahirkan fiqih Islam Wetu Telu, kemudian ditutup dengan catatan untuk melahirkan kearifan terhadap Islam lokal ditengah hegemoni budaya global dan modernitas.
GLOBALIZATION, NATION-STATE, and LOCAL IDENTITY
Last Updated on Monday, 29 November 2010 08:16 Written by Hanafi Monday, 29 November 2010 07:58
The STRUGGLE BETWEEN ISLAMIC LAW and SASAK CULTURE ; Respecting Islamic Fiqih Wetu Telu
Abstrak ; Gerakan formalisasi syari’at Islam yang saat ini marak di Indonesia telah berhasil mengambil manfaat dari berkembangnya wacana peneguhan identiti lokal di era Otonomi Daerah. Salah satu dari keberhasilan gerakan ini adalah terbitnya berbagai Perda bernuansa syari'at Islam di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu daerah yang saat ini menunjukan kecenderungan seperti itu adalah Kalimantan Selatan. Di daerah ini, titik tolak berkembangnya wacana peneguhan identitas lokal adalah dampak negatif budaya global yang bersinergi dengan totalitarianisme konstruk negara bangsa. Oleh karena itu, ketika karakter khas yang dikembangkan oleh gerakan Islamisme adalah suatu ideologi perlawanan (counter-ideology) terhadap berbagai faham modenisme dan sekularisme, maka gerakan ini mampu berkelindan dengan wacana peneguhan identitas lokal yang juga mengembangkan suatu upaya perlawanan terhadap konstruk negara-bangsa yang cenderung bersifat totalitarianisme ala Orde Baru yang tidak lain juga merupakan produk modernisme. Alhasil, terbitlah berbagai Perda bernuansa syari'at Islam yang bersifat diskriminatif, sektarian, koruptif, dan tidak toleran dengan keanekaragaman budaya bangsa.
Staf ISAIS Training Komputer 2010
Written by Hanafi Friday, 26 November 2010 03:48
Wapres membuka Konferensi Internasional ISAIS
Written by Hanafi Thursday, 31 December 2009 08:55

Wakil Presiden RI, Bapak Hamzah Haz, membuka Konferensi Internasional "Dinamika Muslim di Asia Tenggara" yang di Dampingi oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. Said Agil Munawar, MA.
Sambutan Rektor pada Talk Show
Written by Hanafi Thursday, 31 December 2009 08:46

Sambutan Rektor UIN Suska Riau pada acara Talk Show "Muslim Economic Talk" di ISAIS UIN Suska Riau, pada tanggal 03 Desember 2009.
Rektor Membuka Talk Show
Last Updated on Thursday, 07 January 2010 05:42 Written by Hanafi Thursday, 31 December 2009 08:30

Rektor UIN Suska Riau, Prof. Dr. H.M. Nazir, MA, membuka kegiatan Muslim Economic Talk, "Reksadana Syari'ah; Peluang dan Tantangan Investasi yang Islami". Kegiatan ini diadakan pada tanggal 03 Desember 2009 di Auditorium Fak. Dakwah UIN Suska Riau. Talk Show ini, terselenggara dengan baik berkat kerjasama antara Institute for Soautheats Asean Islamic Studies (ISAIS) UIN Suska Riau dengan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) Departemen Keuangan RI.
Kegiatan ini menghasilkan kebijakan tentang perlunya sebuah lembaga yang secara khusus mengkai dan menganalisis kebijakan-kebijakan perbankan syariah di Indonesia. Hal ini, muncul dari sambutan Rektor UIN Suska Riau dalam acara pembukaan kegiatan Talk Show ini. Lembaga ini, tegas Rektor, merupakan keharusan bagi UIN setelah mengalami perubahan dari IAIN. Akan tetapi, karena masih menjadi wacana, maka lembaga ini, masih berada dibawah ISAIS sebagai penggagas kelahiran lembaga tersebut.
Page 1 of 6


