“KAMUFLASE ATAS NAMA TUHAN”

“KAMUFLASE ATAS NAMA TUHAN”

Pada tanggal 4 November 1995, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dibunuh oleh seorang pemuda Yahudi, Yigal Amir. Ketika ditanya oleh polisi atas tindakanya itu, ia menjawab “Saya bertindak sendirian dan atas perintah Tuhan,” dan “saya tidak menyesal”. Begitu juga yang terjadi pada Letnan Khalid al-Islambuli, seorang tentara di Mesir yang telah membunuh Presiden Anwar Sadat. Ketika ia ditangkap, ia berteriak “Nama saya adalah Khalid al-Islambuli, saya telah membunuh Fir‘aun (Sadat), dan saya tidak takut mati”.

Dua orang dengan latarbelakang agama yang berbeda, menshahihkan pembunuhan atas dasar kebencian dan perintah Tuhannya. Keduanya memiliki keyakinan yang sama bahwa tindakan pembunuhan dan kekerasan semacam itu, merupakan perintah Tuhan mereka. Dan yang menarik bahwa perilaku tersebut, justru dilakukan oleh agama yang berbeda. Artinya, disetiap agama sesungguhnya memiliki potensi yang kuat untuk melakukan tindakan pembunuhan dan kekerasan lainnya, atas nama Tuhan. Kelompok kaum beragama ini, disatukan oleh keyakinan bahwa tindakan kekerasan yang mereka lakukan (seakan-akan) telah disetujui oleh Tuhan, bahkan diperintahkan oleh Dia.

Sebagai sebuah agama yang rahmatan lil alamin, ia mengajarkan kepada para penganutnya untuk menyelamatkan bahkan melindungi setiap makhluk yang bernyawa di atas permukaan Bumi. Ajaran ini, menjadikan setiap penganutnya menjadi terkekang oleh setiap tindakan kekerasan dan kedzoliman. Hal ini, menjadi sebuah keniscayaan jika kita temui dalam ajaran Islam bahwa seekor semut pun perlu mendapatkan haknya sebagai makhluk Tuhan. Islam mengajarkan penganutnya untuk tidak menyakiti, menganiaya atau bahkan membunuh binatang tanpa alasan yang jelas.

Namun demikian, seiring dengan semakin berkembangnya zaman, yang ditandai dengan ‘hiruk-pikuk’ teknologi dan ilmu pengetahuan, ajaran Islam mulai menghadapi berbagai gelombang tantangan yang cukup serius. Pada era teknologi harini, kita dihimpit oleh jarak yang tidak ada batas antara satu orang dengan orang lain. Semua orang bisa berinteraksi dan berjumpa dengan siapa saja, tanpa ada batas teritori maupun jarak waktu. Dan semua orang bisa bicara apa saja, tak perduli tua dan muda, kaum cendikia atau buta warna, orang tua atau muda, dan seterusnya.

Persoalan lain yang hingga hari ini masih menggelayut pada agama Islam adalah bentuk keresahan penganutnya akibat adanya tindakan terorisme, pembunuhan, aksi bom bunuh diri yang dilakukan sekelumit oknum yang mengatas namakan Islam.  Aksi bela agama atau dalam bahasa ajarannya adalah jihad, menjadi dalih bagi mereka melakukan tindakan kebiadaban  yang menurut mereka adalah aksi suci.

Jika ditarik garis lurus kebelakang, fenomena ini memang sudah ada sejak peristiwa Tahkim di zaman khalifah Ali bin Abi Thalib. Peristiwa Tahkim tersebut memecah belah ummat muslim menjadi berkeping-keping.  Salah satu kelompok yang lahir saat kejadian politik tersebut adalah kelompok Khawarij. Yaitu, kelompok yang terkenal ekstrim dan beringas memandang orang-orang yang tidak sepaham dengannya, dan tidak segan-segan membunuhnya sebab dianggap kafir dan halal darahnya. Kekejaman dan ekstrimnya kelompok ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pengetahuan mereka. Karena menurut sejarah, kaum Khawarij adalah sekelompok Bangsa Arab Badui yang tinggal di pelosok dengan segala keterbatasan.

Kelompok khawarij saat ini memang sudah musnah seiring bergantinya zaman. Namun, praktek-praktek ajarannya kembali muncul dengan kemesan yang berbeda. Mereka tampil eksis di depan media dengan senjata canggih dan mematikan. Ajarannya setiap saat memasuki pikiran generasi saat ini, massif hapir tidak terdeteksi. Setiap saat ada saja anggota yang berhasil direkrut oleh mereka. Hal ini karena tidak sedikitnya para pencari Tuhan yang lugu dan mau disulap menjadi monster pembunuh dengan alasan jihad fi sabilillah.

Padahal Allah tidak pernah memaknai Jihad semata-mata untuk membunuh, melainkan mempertahankan diri dari musuh yang ingin mencelakai Islam. Bahkan Allah tegaskan bahwa berjihad adalah semata-mata untuk mencari ridha Allah. Hal ini tertuang dalam Al-Quran Surah Al-Ankabut 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari ridha Allah) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Kemudian  Rasulullah pun mengajarkan bahwa perang bukanlah jihad yang paling besar, melainkan jihad yang paling utama yaitu memerangi hawa nafsu. Rasul bersabda: “ Berjihadlah kalian melawan nafsu kalian sebagaimana kalian berjihad melawan musush-musuh kalian” (HR. Abu Daud) lain kesempatan saat rasul pulang dari perang badar mengatakan bahwa “ Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Sahabat bertanya, apakah jihad yang paling besar itu? Beliau bersabda: Jihadunnafs (jihad melawan diri sendiri).

Maka daripada itu, tidak benar dan salah besar menganggap bahwa jihad semata-mata bermakna peperangan, pembunuhan dan aksi teror lainnya, sebagai jihad suci. Malainkan Allah dan Rasulullah menjelaskan bahwa betapa hanya Allah-lah yang paling berhak menghukumi seseorang bersalah. Dan bahwa melakukan jihad pun bukan karena nafsu. Melain, karena mengharap keridhoan Allah semata. Sebab, fenomena jihad saat ini bukanlah murni ajaran Islam,. Melainkan adanya oknum jahat karena kurangnya pengetahuan atau adanya kepentingan memanfaatkan jihad sebagai kedok merekrut pencari kebenaran yang lugu lalu di sulap menjadi badut pembunuh.

by: Mhd Novedy Husaini, Mahasiswa Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau

Leave a Reply